Pembelajaran Matematika

Pembelajaran Matematika

Minggu, 08 April 2012

Jaring jaring Balok pada Peti Mati....

Balok dan kubus merupakan contoh bangun ruang yang sering kita temui dalam keseharian kita. Kotak pensil, penghapus, kardus kue, tahu merupakan contoh bangun ruang yang berbentuk kubus atau balok. “kata Pak Guru” , kalau peti mati juga merupakan contoh Balok kan pak? “tanya Heni”. Kebetulan Heni  merupakan anak pengusaha peti mati. Iya betul Heni “kata Pak Guru”. Sekarang Pak  Guru akan mengajarkan mengenai Jaring- jaring Kubus dan Balok. Jaring jaring ini WAJIB dibuat sebelum kita membuat balok dan kubus. Setelah pak guru selesai menerangkan, seluruh siswa diminta mempraktekanya sendiri-sendiri. Andi yang merupakan siswa terpintar dikelasnya langsung membuat Balok, potong sana potong sini, dan setelah hampir jadi datanglah Pak Guru, dan langsung bertanya, Andi kamu buat apa? Balok, Pak Guru “jawab Andi” karena Pak Guru melihat Andi membuat Balok tanpa jaring-jaring, naik darah lah Pak Guru dan memarahi Andi, sampai suasana hening di kelas tercipta seketika, dan baru berakhir setelah bel intirahat berbunyi.
Sesampainya dirumah Heni, langsung beristirahat dan melihat Ayahnya  membuat pesanan peti mati.  Karena ingat tadi Andi dimarahi Pak Guru karena membuat balok tanpa jaring-jaring, Heni pun menemui Ayahnya dan memberi tahu, Yah kata Pak Guru kalau mau membuat Peti mati yang berbentuk balok, WAJIB membuat jaring jaringnya terlebih dahulu. Ayahnya pun menjelaskan dengan bijak, gini nak jaring-jaring itu memang penting dibuat untuk membuat kubus atau balok, tetapi tidak semua bangun ruang harus dibuat terlebih dahulu jaring-jaringnya, seperti peti mati ini bagaimana harus menbuat jaring-jaringnya ??? setelah dijelaskan Henipun memahaminya, sambil berfikir, Henipun melanjutkan istirahatnya.... “iya ya bagaimana cara menbuat jaring-jaring peti mati, jaring-jaring penghapus,  jaring-jaring tahu.  ”...

Yang bisa di pelajari dari kasus diatas adalah Anak cenderung melihat apa yang dia tonton, meniru dan mempraktekanya. Proses meniru ini sebenarnya yang berbahaya, pada saat meniru anak belum dibekali dengan kemampuan analisis berfikir yang cukup apakah layak atau tidak dia meniru sesuatu (Sears, 1991). Ingat Usia Anak- anak adalah usia sebagai Fondasi, jadi berilah informasi yang benar, dan penyampaianya dengan bahasa yang sesuai. Informasi tidak perlu di tutup-tutupi, yang cenderung membohongi  anak. 



Artikel lain yang bisa anda baca:
11 Penyakit yang Perlu dihindari Guru
Pendidikan yang Otoriter
Bangunan Ramah Lingkungan di Indonesia
Pengakuan Para Saintis mengenai Al Quran
Melukis Segi Delapan Beraturan dalam Lingkaran
Angka
Soal UKK Matematika
Melukis Sudut 45 derajat
Mengapa Pendidikan di Finlandia Terbaik di Dunia

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More